Kamis, 02 Februari 2017

pschology cerpen

“Who am I?

Part I

            Mimpi adalah sebuah harapan di mana kita memiliki alasan-alasan mengapa kita hidup, mimpi membuat kita memiliki tujuan. Semangat untuk hidup.
Lalu bagaimana bila mimpi justeru mengurung kita dari kehidupan yang seharusnya kita jalani?


‘Dandelion’

Saat ini hal yang paling menyakitkan bagiku adalah ketika ada begitu banyak rahasia dalam diri ini, yang bahkan sekalipun aku tidak ingin merahasiakannya.
Masalahnya adalah tentang kejujuran.
Bagaimana bisa kita berbicara mengenai kejujuran pada saat diri ini menolak untuk jujur dengan diri sendiri, ironisnya diri ini bahkan memang tidak bisa jujur dengan dirinya sendiri. Tidak diperbolehkan.

            Bagaimana rasanya bila ada rahasia yang kita miliki namun kita juga harus merahasiakannya pada diri sendiri? Bersembunyi dari diri sendiri? Lari dari diri sendiri?
Aku, ketika mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan diri ini, sesuatu yang sulit untuk dijelaskan, sulit untuk mencernanya. Bagaikan potongan-potongan puzzle yang terpecah belah. Aku merasakan di dalam diri ini ada yang menempatinya. Sesuatu.
Dia dengan jelas “Hidup” bersamaku.

            Aku begitu terkejut, mungkin bila bisa kusaksikan wajahku bak aktor aktris pemeran dalam film vampire, atau aku jadi korban keganasan si vampire yang menghisap darahku tanpa ampun. pucat pasi. Manakala membuka mata kudapati diriku tergeletak di kamar mandi. Kupandangi sekeliling, memutar kembali memori tentang apa yang terjadi sehingga aku bisa terbangun berada di kamar mandi ini, meski ini bukan kejadian untuk yang pertama kali. Sebelumnya aku juga pernah mendapati diriku tertidur di halaman belakang rumah, di dapur atau di lantai ruang tengah. Dan aku sama sekali tidak bisa mengingat apa yang terjadi.
Awalnya aku mengira itu hanya gangguan tidur berjalan. Tapi setelah ada satu kejadian aneh saat aku terbangun dari tidur dan berada di dapur, aku melihat ada 2 mangkok dengan 2 gelas juga sendok di meja makan sisa makan malam. Bagaimana bisa?
Aku, ternyata tidak “Sendiri.”
‘Mengapa? Ada apa? Siapa?’ yang hidup bersamaku?  itu sungguh membuatku frustasi.
Aku sungguh tidak mengerti.

‘Dandelion’
           
Hai. Ngomong ngomong namaku Dande Khansa Azyyati Sofyan. Bisa tebak aku perempuan atau laki laki? Oke panggil saja aku Dande. Aku mahasiswi jurusan desain grafis semester 4. Fakultas, kampus (dirahasiakan). Aku juga seorang penulis, ya meski hanya penulis lepas. Karena dari situlah aku mebiayai hidup, ketimbang harus bekerja di luar, di toko, café atau di manapun dengan seabrek peraturan. Tidak boleh terlambat, harus tepat waktu, harus berpakaian begini atau begitu. Belum lagi harus menghadapi berbagai macam karakter orang di sana, menyesuaikan tempat. Itu bagiku sungguh melelahkan.

            Oke. Aku rasa perkenalannya sudah cukup. Untuk mengenalku lebih jauh, ikuti kisahku.
Ini hanya kisah seorang Dande. Aku membaginya untuk kalian. Mungkin ini tidak sekadar berkisah untuk berbagi, tapi bisa jadi lantaran aku tidak memiliki “Teman” untuk berbagi dan atau tidak ada teman yang bersedia menjadi tempat berbagi.
Atau juga karena I am is a “WEIRDO?”

‘Dandelion’

            Seusai kuliah, aku memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Bukan, maksudku rumah kontrakan. Pekerjaan seabrek sudah menunggu untuk meliarkan imajinasi, membuat jari menari. Berhubung ban sepedaku bocor, jadi hari ini aku terpaksa berjalan kaki. Lagipula sebenarnya kampusku tidak terlalu jauh dari rumah dan juga tidak ada salahnya kan sesekali berjalan kaki menikmati angin sepoi-sepoi di sepanjang alun-alun. Hmm… udaranya cukup segar.
Rasanya sedikit berbeda dengan ketika aku mengendarai sepeda. 

“Apa kamu menikmatinya?”
Seorang perempuan paruh baya sedang duduk di kursi taman memandangku kaku, berbicara datar padaku.
            “Bukan kamu, tapi dia.” Ucapnya, menunjuk arah belakang punggungku menggunakan dagu.
Kulihat tidak ada siapa siapa.
Perempuan paruh baya itu hanya tersenyum sinis menatapku yang bingung lalu pergi. Sekali lagi kuedarkan pandangan ke sekeliling. Masih sama, tidak ada orang di sekitarku.
‘Aneh’ gumamku. Bukan hal yang perlu dipikirkan, aku juga tidak mengenalnya.
  
            Sesampaiku di rumah, kuletakkan tas yang isinya lumayan membuat bahuku terasa pegal. Kemudian berganti pakaian, kulihat jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Adzan berkumandang memasuki waktu shalat dzuhur. Aku berjalan menuju kamar mandi. Oh tidak, pintu kulkas memanggil-manggilku untuk segera dibuka, sepertinya aku perlu menyegarkan tenggorokanku yang sempat kering kekurangan ion karena terik matahari. Seteguk air dingin menyegarkan..

Usai shalat dzuhur kurebahkan sejenak tubuhku ke ranjang.
‘Aku belum makan siang’ pikirku.
Aku kembali ke dapur untuk mengisi bahan bakar ke perutku yang sedari tadi sudah keroncongan. Wah bahasanya mendadak seram ya. Hehe.

            Seeeeettttttttt……… tiba-tiba sekelebat bayangan melintas di hadapanku, aku terperangah membuat piring di tanganku hampir saja terjatuh. Aku merasakan kudukku dingin basah oleh keringat.
            “Itu tadi… a apa?” Sambil menelan ludah aku bertanya pada diri sendiri.

            Aku seperti menggunakan stateskop. Bisa mendengar suara jantungku sendiri. Kuperiksa sekeliling tidak ada siapa-siapa,
“Mungkin hanya angin. Tapi…” entahlah mungkin aku terlalu lapar. Aku tahu hatiku mengatakan lebih dari itu.
“Sebaiknya  sebelum maagmu kambuh, segera lanjutkan makan siangmu Dande.” Aku berusaha keras mengacuhkan kejadian itu.


‘Dandelion’

            Entah bagaimana cara menggambarkannya, aku terdiam membisu, mataku terbelalak tak berkedip, waktu serasa berhenti. Hening, hanya jantungku yang terus berpacu mengalahkan suara denting jam. Pagi ini hal teraneh itu kembali terjadi. Kali ini sungguh membuatku kehilangan akal pikiran. Di atas meja makan sudah tersaji dengan rapi sarapan pagi untukku. Nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya dan segelas teh hangat kemudian tidak lupa juga ada kerupuk. Itu semua makanan favoritku. Tapi, sungguh aku tidak melakukannya, dan aku juga tidak sedang tinggal dengan siapapun. Lalu?

“Bagaimana mungkin hal seperti ini terjadi? Siapa, siapa orangnya? siapa yang melakukannya?”
Pertanyaan-pertanyaan tak berguna itu terus saja kuucapkan. Entah siapa yang akan menjawabnya.
“Apa aku benar-benar mengalami tidur berjalan? Lalu, sekelebat bayangan yang kulihat beberapa hari lalu itu?” aah.. aku tidak bisa mencernanya.
“Atau seseorang benar-benar telah tinggal bersamaku?” Sambil mengawasi sekitar pertanyaan aneh terus muncul di benakku.

Dengan sisa-sisa keberanian, aku berlari ke kamar, memakai jilbabku, mengambil jaket dan segera keluar dari rumah.
“Kemana? Aku harus kemana? Siapa orang yang bisa menolongku? Si.. siapa yang bisa menjelaskan ? Rumah itu. Kejadian itu ? Aku… aku takut.” Akhirnya aku mengakuinya.

Aku berjalan, terus berjalan, tanpa tahu kemana, tanpa tujuan. Bingung kepada siapa aku harus menceritakannya. Dokter? Paranormal?  Ustad? Psikiater? Atau siapa? Oh Tuhan apa sebenarnya yang terjadi? Ada apa dengan diriku? Atau siapa dia? Orang itu?

“Tunggu dulu.” Tiba-tiba langkahku terhenti.
“Makanan itu? Bagaimana bisa sedetail itu? Semuanya begitu tepat?”
“Bu… bunda?” Hal tersinting yang kupikirkan “bunda sudah tidak ada. Tidak mungkin.”

            Aku terus saja berpikir mencoba memahami apa yang terjadi. Benarkah ada seseorang yang hidup bersamaku? Apa dia mengawasiku? Rasanya dia begitu dekat mengenalku. Ah.. apa yang kulakukan, mengapa aku melarikan diri? Harusnya aku mencari tahu. Dia tidak akan bersusah payah menyiapkan makanan kalau tujuannya ingin menyakitiku. Iya itu benar.
Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke rumah, aku ingin mencari tahu siapa dia untuk apa dia melakukannya.

           
Akhirnya aku tiba di rumah. Meski rasa takut sebenarnya masih begitu terasa, aku memberanikan diri untuk masuk. Selangkah demi selangkah perlahan aku masuk. Semuanya masih sama, makanan itu masih tersusun rapi di atas meja.

            “Siapapun kamu, keluarlah…” aku mencoba bersuara, memanggil entah siapa yang ku panggil.
“Jangan bersembunyi, katakan apa tujuanmu melakukan ini semua?” Tidak ada suara, tidak ada jawaban.
Aku memeriksa berlarian ke sana ke mari. Tidak ada orang, tidak ada siapapun. Lalu semua ini apa?
            “Apa mau muuu…” teriakku dengan putus asa. “Apa kau kabur?” aku terduduk lesu menahan geram amarah. Aku serasa dipermainkan. 

Dengan geram penuh amarah aku bangun menutup semua pintu, jendela.
“Tidak akan kubiarkan siapapun masuk ke rumah ini tanpa seizinku. Ini rumahku.” Ucapku kesal.

Waktu terus beranjak, malampun datang dan aku masih terus mengawasi sekitar, takut kalau-kalau ada hal ganjil terjadi aku melewatkannya. Kali ini aku tidak akan membiarkannya lolos. Aku akan menunggunya malam ini.
Cukup lama aku menunggu, tidak ada yang terjadi. Tidak ada hal aneh atau mencurigakan, sampai akhirnya aku menyerah. Aku tidak sanggup lagi menahan kantuk dan akupun terlelap.
                                   
‘Dandelion’
           
Sudah pukul lima pagi. Adzan subuh berkumandang, samar-samar terdengar di telingaku. Akupun terjaga, menunggu sepenuhnya kesadaranku kembali, mengucek-ucek mata yang masih terasa kabur sambil 1,2 kali menguap. Aku beranjak bangun dari tidurku, namun tiba-tiba…

            “A..apa, apa ini?” Dadaku mendadak terasa begitu sesak, sangat sesak. Aku tidak percaya ini.
Di lantai bawah dekat ranjangku ada berserakan kotak rokok dan asbak penuh puntung rokok. Mendadak rasa takut kembali menyerangku. Sambil menangis penuh ketakutan aku memeriksa semua ruangan, tidak ada orang. Pintu, jendela masih terkunci.

“Ya Tuhan… sebenarnya apa yang terjadi?” Aku menangis putus asa dan ketakutan merajaiku.
            “Sssetan? Apa di rumah ini ada setannya?” Aku bertanya sendiri dengan mengawasi sekitar.

            Dengan perasaan sedih penuh ketakutan, aku terus menangis duduk di samping ranjang memeluk lutut sampai aku merasa ada sesuatu yang ganjil. Tanganku, menciumnya dan betapa terkejutnya aku. Bau rokok menyengat.

            “Rokok-rokok itu apa aku yang melakukannya? Itu aku? Tidak mungkin! Bukankah semalam aku sudah… ?”
Aku mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Tidak ada, semalam aku hanya berjaga sampai kemudian akhirnya aku tertidur. Lalu ini?

“Gangguan tidur berjalan? Aku benar-benar mengalaminya?” Pertanyaan tidak berguna itu lagi-lagi kuucapkan.

“Aku butuh seseorang untuk menjelaskan ini. Aku harus bertemu seseorang yang bisa menjelaskan semuanya padaku.” Aku harus tahu apa yang terjadi.

Di tengah kepanikan yang melanda, dengan perasaan tak menentu kejadian yang mengerikan justeru kembali terjadi. Aku melihat seorang perempuan dengan rambut panjang sepunggung terurai di sudut ranjang tempat tidurku menghadap ke dinding sambil menangis, tangisannya begitu memilukan. Membuat hati orang yang mendengarkan menjadi begitu terasa tersayat.
Dengan mendengarnya saja kita sudah cukup tahu betapa begitu pedih yang dia rasakan.
            “A apa lagi ini? Sssiapa kamu…?” dengan tubuh bergetar dan basah oleh keringat aku mendekatinya perlahan, sambil ikut menangis aku mampu merasakan kesedihannya yang begitu dalam itu. Tepat saat kusentuh bahunya ketika dia hendak menoleh, tiba-tiba saja semua menjadi hening, gelap…

‘Dandelion’
            Seperti biasa usai mata kuliah aku segera bergegas menyusun buku dan semuanya memasukkannya ke dalam tas. Masih ada banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan di rumah, hari ini deadline aku mengirim artikel ke salah satu redaksi untuk di publis. Namun belum genap aku melangkah sampai ke pintu ruangan, ada suara yang menyebut namaku.

            “Dande… ” itu Hani teman sejurusan dengan ku. Aku menoleh ke sumber suara.
Hani datang menghampiriku membawa kotak bekal makanan yang rasanya itu tidak asing untukku. Sambil tersenyum dia menyerahkan kotak bekal itu padaku.

            “Terimakasih ya? Makanannya enak. Rupanya kamu juga jago masak dan… aku tidak menyangka kamu ternyata orang yang hangat penuh kelembutan.” Ungkapnya tulus.

            “Oh ya… Rania, nama yang bagus. Kamu lucu suka berganti nama…” sambil berlalu meninggalkanku dia membagikan senyum tertulusnya untukku.
Aku hanya terdiam menatap kotak bekal di tanganku. Kemudian melihat arah punggung Hani yang sudah pergi meninggalkanku dengan penuh kebingungan. Aku bahkan hampir tidak pernah berbicara dengannya. Tapi bagaimana bisa kotak bekal ini sampai padanya, aku memberikan makanan untuknya? Aah yang benar saja, lalu Rania siapa dia? Aku Rania? Dia menyebutkanku Rania. Kapan aku melakukannya. Pikiranku kembali berkecamuk.
            Belum lama ini beberapa hari lalu ada kakak tingkatku yang tiba-tiba begitu marah padaku, dia mengatakan sikapku kekanak-kanakan dan suka mencampuri urusan orang lain lantaran aku mengadukannya pada dosen alasan mengapa dia tidak mengikuti mitest karena sibuk berduaan dengan kekasihnya di halaman belakang kampus. Hai bagaimana bisa? Aku bahkan mengenalnya saja tidak. Ini sungguh tidak benar.

‘Dandelion’

            Setelah serentetan kejadian mengerikan sekaligus menganehkan itu, aku tidak bisa membiarkannya lagi, sesuatu terjadi diluar kendaliku, bahkan tanpa sepengetahuanku. Itu rasanya tidak mungkin jika hanya kusebutkan sebagai gangguan tidur berjalan. Aku tidur sambil berjalan hingga ke kampus kemudian memberikan makanan untuk Hani bahkan aku sampai mengubah nama menjadi Rania. That’s imposible kecuali sesuatu yang aneh telah terjadi. Aku juga mengadukan kakak tingkatku pada dosennya, sedangkan aku mengenalnya saja tidak. Dan kapan saat aku melakukannya. Bukankah itu aneh? Tidak, itu sungguh benar-benar aneh. Dan kejadian-kejadian sebelumnya juga yang terjadi di rumah. Bukankah itu cukup sulit untuk di terima akal sehat?
            Pikiranku terus mengembara mencari kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja terjadi. Menghubungkannya dengan ini dan itu, sampai akhirnya aku tersadar mendengar namaku disebut.
            “Dande… Dande Khansa Azyyati Sofyan.”
Seorang perawat dengan baju putih-putih tersenyum ramah mempersilakanku masuk ke ruangan. Ketika hendak beranjak bangun ada satu pemandangan  yang mengusikku, menarik perhantianku untuk melihatnya. Ada begitu banyak orang di ujung koridor. Orang-orang itu aneh dan berbicara sendiri, tersenyum sendiri kemudian menangis. Ada yang berjalan mondar mandir sambil menatap ke atas. Rambut meraka tampak urak-urakan kacau dengan mata tidak focus. Membuatku sadar bahwa aku sedang berada di rumah sakit jiwa. Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak gila, aku tidak seperti mereka. Seketika kutepis pemikiran gila itu.
Aku masuk ke ruangan. Suasana yang kulihat  begitu berbeda dari yang kulihat di luar. Ini tidak terlihat seperti ruangan-ruangan rumah sakit biasanya, tidak ada alat-alat suntik atau bau obat-obatan. Ini lebih seperti tempat meditasi untuk menenangkan diri, bau air conditioner dengan wangi lavender. Hmm… sungguh menenangkan.
Perawat menyuruhku untuk menunggu di ruangan. Tak lama kemudian seorang perempuan paruh baya berkaca mata, memakai jaket putih panjang dan baju warna hijau lumut dengan setateskop tersangkut di lehernya masuk ke ruangan tersenyum ramah sekali. Duduk di hadapanku yang hanya terpisah jarak oleh meja di hadapan ku. Dia menanyakan bagaimana dengan hariku hari ini, apa yang sudah kelewati. Kemudian…
            “Siapa namanya sayang…” suaranya begitu lembut. Dia membuatku sangat nyaman.
“Dande…” jawabku sambil menatapnya penuh kekaguman.
“Lengkapnya?”
“Dande Khansa Azzyati Sofyan.” Jawabku lagi. Entah kenapa aku begitu suka menatapnya. Rasaku wajahnya begitu meneduhkan. Kulirik papan nama di atas meja miliknya, dr.Dianita, SpKJ.
“Nama yang bagus…” ucapnya. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
“Oke Dande, apa yang ingin kamu ceritakan?” Pemeriksaanpun dimulai.

 Aku menatapnya dengan rasa bingung, aku tidak tahu harus memulai dari mana. Tapi tampaknya dia memahami kebingunganku. Dia tersenyum, senyuman paling ramah menurutku.

“Ceritakan saja apa yang ada di benakmu Dande, apa saja yang kamu rasakan.” Ungkapnya.


Akhirnya kuceritakan semua apa saja kejadian yang aku alami, apa yang kurasakan, apa yang kulihat. Semuanya. Dokter Dian hanya memperhatikanku dengan seksama, mendengar semua yang kukatakan dengan posisi tangan bersedakap sambil bersandar di kursi miliknya dan raut wajah setenang mungkin juga dahi sedikit berkerut. Dia terus mendengarkan.
Setelah selesai mendengarku bercerita, dokter Dian hanya kembali tersenyum lalu mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat denganku. Menarik napas sebelum mulai menjelaskannya padaku.

“Begini Dande… setelah mendengar cerita seluruhnya secara utuh, saya menduga bahwa kamu menderita DID sekaligus Skizofrenia.” Aku mendengarkan dengan seksama tidak mau melewatkan satu katapun, dan seolah ada kilat yang begitu menyilaukan menyambar, disambut dengan guntur menggelegar, meledak dengan begitu keras membuat jantungku seakan ingin lepas dari tempatnya, dadaku terasa begitu sempit. Sesak, begitu mendengar kata yang asing di telingaku, DID, Skizofrenia penyakit seperti apa itu?
  
“DID adalah Dissosiative Identity Dissorder, orang kita biasa menyebutnya dengan kepribadian ganda. Penyakit itu di tandai dengan adanya 2 atau lebih kepribadian yang berbeda yang terus mempengaruhi perilaku seseorang. Biasanya penderitanya juga mengalami hilang ingatan yang cukup parah untuk sekadar disebut sebagai lupa. Dengan kata lain, penderita biasanya tidak dapat mengingat tindakan atau perilaku saat dirinya dikuasai oleh kepribadian yang lain.” Jelasnya padaku.
 “Tadi kamu bilang, kamu bertemu seseorang teman yang mengatakan kalau kamu memberinya makanan dan kamu juga mengubah nama dengan sikap sangat lembut berbeda dari biasanya, begitukan?”

Aku hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun. Diapun terus melanjutkan penjelasannya. “ Tapi kamu sama sekali tidak mengingat kapan kamu melakukan hal tersebut?”

  Lagi lagi aku mengangguk mengiyakan.
“Dan biasanya DID juga mengalami beberapa gejala seperti depresi, perubahan mood, imsomnia, terror malam dan berjalan saat tidur, cemas dan fobia juga keinginan untuk bunuh diri. Ini sedikit penjelasan mengenai DID. Dan mungkin yang temanmu temui itu sebagai Rania merupakan kepribadianmu yang lain.

“Lalu Skizofrenia merupakan gangguan mental berat yang berupa episode psikosis kronik atau berulang seperti melihat atau mendengar sesuatu yang tidak nyata atau kata lain halusinasi dan berpikir atau meyakini sesuatu hal yang tidak nyata, delusi. Gejalanya hampir sedikit mirip dan bunuh diri merupakan resiko yang dimiliki oleh penderita Skizofrenia dan DID, itu berpotensi melukai diri sendiri dan orang lain."
 "Contoh gejala skizofrenia seperti kamu melihat sosok perempuan misalnya tapi sebenarnya itu tidak ada, suara-suara yang berbisik bahkan kadang seperti berteriak seakan nyata, namun sebenarnya tidaklah nyata. Tapi jangan terlalu khawatir. Ini baru dugaan. Ada baiknya pemeriksaan berikutnya kamu mengajak keluarga atau teman yang mungkin pernah melihat perubahan itu. Itu akan sangat bisa membantu untuk menguatkan diagnosa dan bisa segera mengambil langkah selanjutnya yang diperlukan.”

"Kita butuh pemeriksaan penunjang, ada banyak yang perlu kita bahas mengenai gejalanya, riwayat masa kecil, keluarga dan lainnya. Saya tidak bisa mendiagnosa hanya dengan sekali pertemuan dan cerita singkat itu." Tuturnya.

"Tapi untuk sesi pertama ini kita cukupkan saja hari ini." 

“Apa saya gila dok?” Tiba-tiba tanpa bisa kucegah pertanyaan itu muncul begitu saja.

Dokter Dian tersenyum menenangkan “gangguan kejiwaan ada cukup banyak, dan DID, Skizofrenia bukan gila seperti yang kamu bayangkan. Untuk sementara saya akan berikan resep obat anti cemas dan anti depresi, itu akan dapat membantu mengurangi kecemasanmu.” Imbuhnya. Sepertinya dia tahu apa yang kupikirkan.

DID, Skizofrenia dari kata-katanya saja sudah tampak menakutkan. Bagaimana seandainya teman-teman kampusku dan orang lain tahu aku mengidap penyakit aneh ini? Aku baru saja memiliki seorang teman yang nyatanya dia orang yang cukup baik. Tapi bagaimana kalau Hani tahu ? Masihkah aku akan melihat senyum tulusnya itu lagi?
Aku mungkin memang tidak gila. But I’m is a WEIRDO ! dan kapan saja aku bisa berubah menjadi seorang monster yang menyeramkan.
           
 Lalu… apa yang akan terjadi pada diriku selanjutnya?


Nantikan cerita berikutnya…. :) 



                                                                                    Dandelion,


                                                                        Sukaraja. Kamis, 02 februari 2017

           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar