“Who am I?
Part I
Part I
Mimpi adalah sebuah harapan di mana
kita memiliki alasan-alasan mengapa kita hidup, mimpi membuat kita memiliki
tujuan. Semangat untuk hidup.
Lalu
bagaimana bila mimpi justeru mengurung kita dari kehidupan yang seharusnya kita
jalani?
‘Dandelion’
Saat ini hal yang paling menyakitkan
bagiku adalah ketika ada begitu banyak rahasia dalam diri ini, yang bahkan
sekalipun aku tidak ingin merahasiakannya.
Masalahnya
adalah tentang kejujuran.
Bagaimana
bisa kita berbicara mengenai kejujuran pada saat diri ini menolak untuk jujur
dengan diri sendiri, ironisnya diri ini bahkan memang tidak bisa jujur dengan
dirinya sendiri. Tidak diperbolehkan.
Bagaimana rasanya bila ada rahasia
yang kita miliki namun kita juga harus merahasiakannya pada diri sendiri?
Bersembunyi dari diri sendiri? Lari dari diri sendiri?
Aku,
ketika mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan diri ini, sesuatu
yang sulit untuk dijelaskan, sulit untuk mencernanya. Bagaikan potongan-potongan
puzzle yang terpecah belah. Aku merasakan di dalam diri ini ada yang
menempatinya. Sesuatu.
Dia
dengan jelas “Hidup” bersamaku.
Aku begitu terkejut, mungkin bila
bisa kusaksikan wajahku bak aktor aktris pemeran dalam film vampire, atau aku
jadi korban keganasan si vampire yang menghisap darahku tanpa ampun. pucat pasi.
Manakala membuka mata kudapati diriku tergeletak di kamar mandi. Kupandangi
sekeliling, memutar kembali memori tentang apa yang terjadi sehingga aku bisa
terbangun berada di kamar mandi ini, meski ini bukan kejadian untuk yang
pertama kali. Sebelumnya aku juga pernah mendapati diriku tertidur di halaman
belakang rumah, di dapur atau di lantai ruang tengah. Dan aku sama sekali tidak
bisa mengingat apa yang terjadi.
Awalnya
aku mengira itu hanya gangguan tidur berjalan. Tapi setelah ada satu kejadian
aneh saat aku terbangun dari tidur dan berada di dapur, aku melihat ada 2
mangkok dengan 2 gelas juga sendok di meja makan sisa makan malam. Bagaimana
bisa?
Aku,
ternyata tidak “Sendiri.”
‘Mengapa? Ada apa?
Siapa?’ yang
hidup bersamaku? itu sungguh membuatku frustasi.
Aku
sungguh tidak mengerti.
‘Dandelion’
Hai. Ngomong ngomong namaku Dande Khansa
Azyyati Sofyan. Bisa tebak aku perempuan atau laki laki? Oke panggil saja aku
Dande. Aku mahasiswi jurusan desain grafis semester 4. Fakultas, kampus
(dirahasiakan). Aku juga seorang penulis, ya meski hanya penulis lepas. Karena
dari situlah aku mebiayai hidup, ketimbang harus bekerja di luar, di toko, café
atau di manapun dengan seabrek peraturan. Tidak boleh terlambat, harus tepat
waktu, harus berpakaian begini atau begitu. Belum lagi harus menghadapi
berbagai macam karakter orang di sana, menyesuaikan tempat. Itu bagiku sungguh
melelahkan.
Oke. Aku rasa perkenalannya sudah
cukup. Untuk mengenalku lebih jauh, ikuti kisahku.
Ini
hanya kisah seorang Dande. Aku membaginya untuk kalian. Mungkin ini tidak
sekadar berkisah untuk berbagi, tapi bisa jadi lantaran aku tidak memiliki
“Teman” untuk berbagi dan atau tidak ada teman yang bersedia menjadi tempat
berbagi.
Atau
juga karena I am is a “WEIRDO?”
‘Dandelion’
Seusai kuliah, aku memutuskan untuk
langsung pulang ke rumah. Bukan, maksudku rumah kontrakan. Pekerjaan seabrek
sudah menunggu untuk meliarkan imajinasi, membuat jari menari. Berhubung ban sepedaku
bocor, jadi hari ini aku terpaksa berjalan kaki. Lagipula sebenarnya kampusku
tidak terlalu jauh dari rumah dan juga tidak ada salahnya kan sesekali berjalan
kaki menikmati angin sepoi-sepoi di sepanjang alun-alun. Hmm… udaranya cukup
segar.
Rasanya
sedikit berbeda dengan ketika aku mengendarai sepeda.
“Apa kamu menikmatinya?”
Seorang
perempuan paruh baya sedang duduk di kursi taman memandangku kaku, berbicara datar
padaku.
“Bukan
kamu, tapi dia.” Ucapnya, menunjuk arah belakang punggungku menggunakan dagu.
Kulihat
tidak ada siapa siapa.
Perempuan
paruh baya itu hanya tersenyum sinis menatapku yang bingung lalu pergi. Sekali
lagi kuedarkan pandangan ke sekeliling. Masih sama, tidak ada orang di sekitarku.
‘Aneh’ gumamku. Bukan
hal yang perlu dipikirkan, aku juga tidak mengenalnya.
Sesampaiku di rumah, kuletakkan tas
yang isinya lumayan membuat bahuku terasa pegal. Kemudian berganti pakaian, kulihat
jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Adzan berkumandang memasuki
waktu shalat dzuhur. Aku berjalan menuju kamar mandi. Oh tidak, pintu kulkas
memanggil-manggilku untuk segera dibuka, sepertinya aku perlu menyegarkan
tenggorokanku yang sempat kering kekurangan ion karena terik matahari. Seteguk
air dingin menyegarkan..
Usai shalat dzuhur kurebahkan sejenak
tubuhku ke ranjang.
‘Aku belum makan
siang’ pikirku.
Aku
kembali ke dapur untuk mengisi bahan bakar ke perutku yang sedari tadi sudah
keroncongan. Wah bahasanya mendadak seram ya. Hehe.
Seeeeettttttttt……… tiba-tiba
sekelebat bayangan melintas di hadapanku, aku terperangah membuat piring di
tanganku hampir saja terjatuh. Aku merasakan kudukku dingin basah oleh
keringat.
“Itu tadi… a apa?” Sambil menelan
ludah aku bertanya pada diri sendiri.
Aku seperti menggunakan stateskop. Bisa
mendengar suara jantungku sendiri. Kuperiksa sekeliling tidak ada siapa-siapa,
“Mungkin hanya angin. Tapi…” entahlah
mungkin aku terlalu lapar. Aku tahu hatiku mengatakan lebih dari itu.
“Sebaiknya sebelum maagmu kambuh, segera lanjutkan makan
siangmu Dande.” Aku berusaha
keras mengacuhkan kejadian itu.
‘Dandelion’
Entah bagaimana cara
menggambarkannya, aku terdiam membisu, mataku terbelalak tak berkedip, waktu
serasa berhenti. Hening, hanya jantungku yang terus berpacu mengalahkan suara
denting jam. Pagi ini hal teraneh itu kembali terjadi. Kali ini sungguh
membuatku kehilangan akal pikiran. Di atas meja makan sudah tersaji dengan rapi
sarapan pagi untukku. Nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya dan segelas
teh hangat kemudian tidak lupa juga ada kerupuk. Itu semua makanan favoritku. Tapi, sungguh aku tidak melakukannya, dan aku juga tidak sedang tinggal dengan siapapun. Lalu?
“Bagaimana mungkin hal seperti ini
terjadi? Siapa, siapa orangnya? siapa yang melakukannya?”
Pertanyaan-pertanyaan tak berguna itu
terus saja kuucapkan. Entah siapa yang akan menjawabnya.
“Apa aku benar-benar mengalami tidur berjalan? Lalu, sekelebat bayangan yang kulihat beberapa hari lalu itu?”
aah.. aku tidak bisa mencernanya.
“Atau seseorang benar-benar telah
tinggal bersamaku?” Sambil mengawasi sekitar pertanyaan aneh terus muncul di
benakku.
Dengan sisa-sisa keberanian, aku berlari
ke kamar, memakai jilbabku, mengambil jaket dan segera keluar dari rumah.
“Kemana? Aku harus kemana? Siapa orang
yang bisa menolongku? Si.. siapa yang bisa menjelaskan ? Rumah itu. Kejadian
itu ? Aku… aku takut.” Akhirnya aku mengakuinya.
Aku berjalan, terus berjalan, tanpa tahu
kemana, tanpa tujuan. Bingung kepada siapa aku harus menceritakannya. Dokter?
Paranormal? Ustad? Psikiater? Atau siapa? Oh Tuhan apa sebenarnya yang terjadi? Ada
apa dengan diriku? Atau siapa dia? Orang itu?
“Tunggu dulu.” Tiba-tiba langkahku
terhenti.
“Makanan
itu? Bagaimana bisa sedetail itu? Semuanya begitu tepat?”
“Bu…
bunda?” Hal tersinting yang kupikirkan “bunda sudah tidak ada. Tidak mungkin.”
Aku terus saja berpikir mencoba
memahami apa yang terjadi. Benarkah ada seseorang yang hidup bersamaku? Apa dia
mengawasiku? Rasanya dia begitu dekat mengenalku. Ah.. apa yang kulakukan,
mengapa aku melarikan diri? Harusnya aku mencari tahu. Dia tidak akan bersusah
payah menyiapkan makanan kalau tujuannya ingin menyakitiku. Iya itu benar.
Akhirnya
kuputuskan untuk kembali ke rumah, aku ingin mencari tahu siapa dia untuk apa
dia melakukannya.
Akhirnya aku tiba di rumah. Meski rasa
takut sebenarnya masih begitu terasa, aku memberanikan diri untuk masuk.
Selangkah demi selangkah perlahan aku masuk. Semuanya masih sama, makanan itu
masih tersusun rapi di atas meja.
“Siapapun kamu, keluarlah…” aku
mencoba bersuara, memanggil entah siapa yang ku panggil.
“Jangan bersembunyi, katakan apa
tujuanmu melakukan ini semua?” Tidak ada suara, tidak ada jawaban.
Aku
memeriksa berlarian ke sana ke mari. Tidak ada orang, tidak ada siapapun. Lalu
semua ini apa?
“Apa mau muuu…” teriakku dengan putus
asa. “Apa kau kabur?” aku terduduk lesu menahan geram amarah. Aku serasa
dipermainkan.
Dengan geram penuh amarah aku bangun
menutup semua pintu, jendela.
“Tidak akan kubiarkan siapapun masuk ke
rumah ini tanpa seizinku. Ini rumahku.” Ucapku kesal.
Waktu terus beranjak, malampun datang
dan aku masih terus mengawasi sekitar, takut kalau-kalau ada hal ganjil terjadi
aku melewatkannya. Kali ini aku tidak akan membiarkannya lolos. Aku akan
menunggunya malam ini.
Cukup
lama aku menunggu, tidak ada yang terjadi. Tidak ada hal aneh atau mencurigakan,
sampai akhirnya aku menyerah. Aku tidak sanggup lagi menahan kantuk dan akupun
terlelap.
‘Dandelion’
Sudah pukul lima pagi. Adzan subuh
berkumandang, samar-samar terdengar di telingaku. Akupun terjaga, menunggu
sepenuhnya kesadaranku kembali, mengucek-ucek mata yang masih terasa kabur
sambil 1,2 kali menguap. Aku beranjak bangun dari tidurku, namun tiba-tiba…
“A..apa, apa ini?” Dadaku mendadak
terasa begitu sesak, sangat sesak. Aku tidak percaya ini.
Di lantai bawah dekat ranjangku ada
berserakan kotak rokok dan asbak penuh puntung rokok. Mendadak rasa takut
kembali menyerangku. Sambil menangis penuh ketakutan aku memeriksa semua
ruangan, tidak ada orang. Pintu, jendela masih terkunci.
“Ya Tuhan… sebenarnya apa yang terjadi?”
Aku menangis putus asa dan ketakutan merajaiku.
“Sssetan? Apa di rumah ini ada setannya?”
Aku bertanya sendiri dengan mengawasi sekitar.
Dengan perasaan sedih penuh
ketakutan, aku terus menangis duduk di samping ranjang memeluk lutut sampai aku
merasa ada sesuatu yang ganjil. Tanganku, menciumnya dan betapa terkejutnya
aku. Bau rokok menyengat.
“Rokok-rokok itu apa aku yang
melakukannya? Itu aku? Tidak mungkin! Bukankah semalam aku sudah… ?”
Aku mencoba mengingat apa yang terjadi
semalam. Tidak ada, semalam aku hanya berjaga sampai kemudian akhirnya aku
tertidur. Lalu ini?
“Gangguan tidur berjalan? Aku
benar-benar mengalaminya?” Pertanyaan tidak berguna itu lagi-lagi kuucapkan.
“Aku butuh seseorang untuk menjelaskan
ini. Aku harus bertemu seseorang yang bisa menjelaskan semuanya padaku.” Aku
harus tahu apa yang terjadi.
Di tengah kepanikan yang melanda, dengan
perasaan tak menentu kejadian yang mengerikan justeru kembali terjadi. Aku
melihat seorang perempuan dengan rambut panjang sepunggung terurai di sudut
ranjang tempat tidurku menghadap ke dinding sambil menangis, tangisannya begitu
memilukan. Membuat hati orang yang mendengarkan menjadi begitu terasa tersayat.
Dengan
mendengarnya saja kita sudah cukup tahu betapa begitu pedih yang dia rasakan.
“A apa lagi ini? Sssiapa kamu…?”
dengan tubuh bergetar dan basah oleh keringat aku mendekatinya perlahan, sambil
ikut menangis aku mampu merasakan kesedihannya yang begitu dalam itu. Tepat
saat kusentuh bahunya ketika dia hendak menoleh, tiba-tiba saja semua menjadi
hening, gelap…
‘Dandelion’
Seperti biasa usai mata kuliah aku
segera bergegas menyusun buku dan semuanya memasukkannya ke dalam tas. Masih
ada banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan di rumah, hari ini deadline aku
mengirim artikel ke salah satu redaksi untuk di publis. Namun belum genap aku
melangkah sampai ke pintu ruangan, ada suara yang menyebut namaku.
“Dande… ” itu Hani teman sejurusan
dengan ku. Aku menoleh ke sumber suara.
Hani
datang menghampiriku membawa kotak bekal makanan yang rasanya itu tidak asing
untukku. Sambil tersenyum dia menyerahkan kotak bekal itu padaku.
“Terimakasih ya? Makanannya enak.
Rupanya kamu juga jago masak dan… aku tidak menyangka kamu ternyata orang yang
hangat penuh kelembutan.” Ungkapnya tulus.
“Oh ya… Rania, nama yang bagus. Kamu
lucu suka berganti nama…” sambil berlalu meninggalkanku dia membagikan senyum
tertulusnya untukku.
Aku
hanya terdiam menatap kotak bekal di tanganku. Kemudian melihat arah punggung
Hani yang sudah pergi meninggalkanku dengan penuh kebingungan. Aku bahkan
hampir tidak pernah berbicara dengannya. Tapi bagaimana bisa kotak bekal ini
sampai padanya, aku memberikan makanan untuknya? Aah yang benar saja, lalu
Rania siapa dia? Aku Rania? Dia menyebutkanku Rania. Kapan aku melakukannya. Pikiranku
kembali berkecamuk.
Belum lama ini beberapa hari lalu
ada kakak tingkatku yang tiba-tiba begitu marah padaku, dia mengatakan sikapku
kekanak-kanakan dan suka mencampuri urusan orang lain lantaran aku
mengadukannya pada dosen alasan mengapa dia tidak mengikuti mitest karena sibuk
berduaan dengan kekasihnya di halaman belakang kampus. Hai bagaimana bisa? Aku
bahkan mengenalnya saja tidak. Ini sungguh tidak benar.
‘Dandelion’
Setelah serentetan kejadian mengerikan
sekaligus menganehkan itu, aku tidak bisa membiarkannya lagi, sesuatu terjadi
diluar kendaliku, bahkan tanpa sepengetahuanku. Itu rasanya tidak mungkin jika
hanya kusebutkan sebagai gangguan tidur berjalan. Aku tidur sambil berjalan
hingga ke kampus kemudian memberikan makanan untuk Hani bahkan aku sampai
mengubah nama menjadi Rania. That’s imposible kecuali sesuatu yang aneh telah
terjadi. Aku juga mengadukan kakak tingkatku pada dosennya, sedangkan aku
mengenalnya saja tidak. Dan kapan saat aku melakukannya. Bukankah itu aneh?
Tidak, itu sungguh benar-benar aneh. Dan kejadian-kejadian sebelumnya juga yang
terjadi di rumah. Bukankah itu cukup sulit untuk di terima akal sehat?
Pikiranku terus mengembara mencari
kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja terjadi. Menghubungkannya dengan ini dan
itu, sampai akhirnya aku tersadar mendengar namaku disebut.
“Dande… Dande Khansa Azyyati
Sofyan.”
Seorang perawat dengan baju putih-putih
tersenyum ramah mempersilakanku masuk ke ruangan. Ketika hendak beranjak bangun
ada satu pemandangan yang mengusikku,
menarik perhantianku untuk melihatnya. Ada begitu banyak orang di ujung
koridor. Orang-orang itu aneh dan berbicara sendiri, tersenyum sendiri kemudian
menangis. Ada yang berjalan mondar mandir sambil menatap ke atas. Rambut meraka
tampak urak-urakan kacau dengan mata tidak focus. Membuatku sadar bahwa aku
sedang berada di rumah sakit jiwa. Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak gila, aku
tidak seperti mereka. Seketika kutepis pemikiran gila itu.
Aku masuk ke ruangan. Suasana yang
kulihat begitu berbeda dari yang kulihat
di luar. Ini tidak terlihat seperti ruangan-ruangan rumah sakit biasanya, tidak
ada alat-alat suntik atau bau obat-obatan. Ini lebih seperti tempat meditasi
untuk menenangkan diri, bau air conditioner dengan wangi lavender. Hmm… sungguh
menenangkan.
Perawat
menyuruhku untuk menunggu di ruangan. Tak lama kemudian seorang perempuan paruh
baya berkaca mata, memakai jaket putih panjang dan baju warna hijau lumut
dengan setateskop tersangkut di lehernya masuk ke ruangan tersenyum ramah sekali.
Duduk di hadapanku yang hanya terpisah jarak oleh meja di hadapan ku. Dia
menanyakan bagaimana dengan hariku hari ini, apa yang sudah kelewati. Kemudian…
“Siapa namanya sayang…” suaranya
begitu lembut. Dia membuatku sangat nyaman.
“Dande…” jawabku sambil menatapnya penuh
kekaguman.
“Lengkapnya?”
“Dande Khansa Azzyati Sofyan.” Jawabku
lagi. Entah kenapa aku begitu suka menatapnya. Rasaku wajahnya begitu meneduhkan.
Kulirik papan nama di atas meja miliknya, dr.Dianita, SpKJ.
“Nama yang bagus…” ucapnya. Aku hanya
tersenyum mendengarnya.
“Oke Dande, apa yang ingin kamu
ceritakan?” Pemeriksaanpun dimulai.
Aku menatapnya dengan rasa bingung, aku tidak
tahu harus memulai dari mana. Tapi tampaknya dia memahami kebingunganku. Dia
tersenyum, senyuman paling ramah menurutku.
“Ceritakan saja apa yang ada di benakmu
Dande, apa saja yang kamu rasakan.” Ungkapnya.
Akhirnya kuceritakan semua apa saja
kejadian yang aku alami, apa yang kurasakan, apa yang kulihat. Semuanya. Dokter
Dian hanya memperhatikanku dengan seksama, mendengar semua yang kukatakan
dengan posisi tangan bersedakap sambil bersandar di kursi miliknya dan raut wajah setenang
mungkin juga dahi sedikit berkerut. Dia terus mendengarkan.
Setelah selesai mendengarku bercerita,
dokter Dian hanya kembali tersenyum lalu mencondongkan tubuhnya agar lebih
dekat denganku. Menarik napas sebelum mulai menjelaskannya padaku.
“Begini Dande… setelah mendengar cerita
seluruhnya secara utuh, saya menduga bahwa kamu menderita DID sekaligus
Skizofrenia.” Aku mendengarkan dengan seksama tidak mau melewatkan satu
katapun, dan seolah ada kilat yang begitu menyilaukan menyambar, disambut dengan
guntur menggelegar, meledak dengan begitu keras membuat jantungku seakan ingin
lepas dari tempatnya, dadaku terasa begitu sempit. Sesak, begitu mendengar kata
yang asing di telingaku, DID, Skizofrenia penyakit seperti apa itu?
“DID adalah Dissosiative Identity
Dissorder, orang kita biasa menyebutnya dengan kepribadian ganda. Penyakit itu
di tandai dengan adanya 2 atau lebih kepribadian yang berbeda yang terus mempengaruhi
perilaku seseorang. Biasanya penderitanya juga mengalami hilang ingatan yang
cukup parah untuk sekadar disebut sebagai lupa. Dengan kata lain, penderita
biasanya tidak dapat mengingat tindakan atau perilaku saat dirinya dikuasai
oleh kepribadian yang lain.” Jelasnya padaku.
“Tadi
kamu bilang, kamu bertemu seseorang teman yang mengatakan kalau kamu memberinya
makanan dan kamu juga mengubah nama dengan sikap sangat lembut berbeda dari
biasanya, begitukan?”
Aku hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun.
Diapun terus melanjutkan penjelasannya. “ Tapi kamu sama sekali tidak mengingat
kapan kamu melakukan hal tersebut?”
Lagi lagi aku mengangguk mengiyakan.
“Dan biasanya DID juga mengalami
beberapa gejala seperti depresi, perubahan mood, imsomnia, terror malam dan
berjalan saat tidur, cemas dan fobia juga keinginan untuk bunuh diri. Ini sedikit
penjelasan mengenai DID. Dan mungkin yang temanmu temui itu sebagai Rania
merupakan kepribadianmu yang lain.
“Lalu Skizofrenia merupakan gangguan
mental berat yang berupa episode psikosis kronik atau berulang seperti melihat
atau mendengar sesuatu yang tidak nyata atau kata lain halusinasi dan berpikir
atau meyakini sesuatu hal yang tidak nyata, delusi. Gejalanya hampir sedikit
mirip dan bunuh diri merupakan resiko yang dimiliki oleh penderita Skizofrenia
dan DID, itu berpotensi melukai diri sendiri dan orang lain."
"Contoh gejala skizofrenia seperti kamu melihat sosok perempuan misalnya tapi sebenarnya itu tidak ada, suara-suara yang berbisik bahkan kadang seperti berteriak seakan nyata, namun sebenarnya tidaklah nyata. Tapi jangan terlalu khawatir. Ini baru dugaan. Ada baiknya pemeriksaan berikutnya kamu mengajak keluarga atau teman yang mungkin pernah melihat perubahan itu. Itu akan sangat bisa membantu untuk menguatkan diagnosa dan bisa segera mengambil langkah selanjutnya yang diperlukan.”
"Kita butuh pemeriksaan penunjang, ada banyak yang perlu kita bahas mengenai gejalanya, riwayat masa kecil, keluarga dan lainnya. Saya tidak bisa mendiagnosa hanya dengan sekali pertemuan dan cerita singkat itu." Tuturnya.
"Tapi untuk sesi pertama ini kita cukupkan saja hari ini."
"Contoh gejala skizofrenia seperti kamu melihat sosok perempuan misalnya tapi sebenarnya itu tidak ada, suara-suara yang berbisik bahkan kadang seperti berteriak seakan nyata, namun sebenarnya tidaklah nyata. Tapi jangan terlalu khawatir. Ini baru dugaan. Ada baiknya pemeriksaan berikutnya kamu mengajak keluarga atau teman yang mungkin pernah melihat perubahan itu. Itu akan sangat bisa membantu untuk menguatkan diagnosa dan bisa segera mengambil langkah selanjutnya yang diperlukan.”
"Kita butuh pemeriksaan penunjang, ada banyak yang perlu kita bahas mengenai gejalanya, riwayat masa kecil, keluarga dan lainnya. Saya tidak bisa mendiagnosa hanya dengan sekali pertemuan dan cerita singkat itu." Tuturnya.
"Tapi untuk sesi pertama ini kita cukupkan saja hari ini."
“Apa saya gila dok?” Tiba-tiba tanpa
bisa kucegah pertanyaan itu muncul begitu saja.
Dokter Dian tersenyum menenangkan “gangguan
kejiwaan ada cukup banyak, dan DID, Skizofrenia bukan gila seperti yang kamu
bayangkan. Untuk sementara saya akan berikan resep obat anti cemas dan anti
depresi, itu akan dapat membantu mengurangi kecemasanmu.” Imbuhnya. Sepertinya
dia tahu apa yang kupikirkan.
DID, Skizofrenia dari kata-katanya saja sudah tampak menakutkan. Bagaimana seandainya teman-teman
kampusku dan orang lain tahu aku mengidap penyakit aneh ini? Aku baru saja
memiliki seorang teman yang nyatanya dia orang yang cukup baik. Tapi bagaimana
kalau Hani tahu ? Masihkah aku akan melihat senyum tulusnya itu lagi?
Aku
mungkin memang tidak gila. But I’m is a WEIRDO ! dan kapan saja aku bisa berubah
menjadi seorang monster yang menyeramkan.
Lalu…
apa yang akan terjadi pada diriku selanjutnya?
Nantikan cerita berikutnya…. :)
Dandelion,
Sukaraja.
Kamis, 02 februari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar